Cara mengatasi Lupa

atasilupadenganlupa

“Penyakit” lupa makin perlu diwaspadai sebab, seperti yang dilansir oleh The Straits Times (TST), edisi 9 Januari 1998, otak generasi tahun 50-an yang kini mulai menginjak usia paruh baya, mengalami kemunduran. Apa penyebab kemunduran itu dan bagaimana solusinya? Klinik Memori maupun pelbagai suplemen ditawarkan untuk membantu.

Sungguh keterlaluan sifat pelupa Peter (27). Setiba di rumah kontrakannya sehabis berbelanja, ia kaget setengah mati. Soalnya mobilnya tak terparkir digarasi. Ia lalu bertanya kepada teman-temannya, apakah ada yang melihat siapa yang memakai mobilnya. Ia semakin bingung karena tak memperoleh jawaban. Mereka baru saja pulang dan mobilnya sudah tidak ada di garasi. Ketika seorang teman bertanya, ia dari mana dan Peter menjawab baru dari BIP (sebuah pusat perbelanjaan di Bandung), ia langsung disambar dengan pertanyaan, “Naik apa?” Peter langsung memukul jidatnya. Segera ia balik ke BIP untuk mengambil mobilnya yang masih berada di tempat parkir BIP.

Bukan sekali itu Peter melakukan hal yang membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala. Ada kejadian yang lebih menggelikan dan fatal akibatnya. Waktu itu ujian akhir semester. Entah karena capai atau pusing mengerjakan soal, sepulang ujian ia langsung tidur. Malam harinya ketika ingin mengecek jawaban, kontan ia teriak-teriak. Ternyata lembar jawaban soal tidak terkumpul bersama soalnya. Justru kertas corat-coret dan kerpekan yang terkumpul. Seketika ia langsung lemas dan pasrah kalau tidak lulus.


Lain lagi dengan David Moobs. Ia juga seperti Peter, sering lupa di mana memarkir mobilnya. Gawatnya lagi, hampir setiap hari ia menduga mobilnya telah dicuri. Suatu kali pernah ia pergi ke toko membeli susu, tapi yang terbawa sampai rumah malah roti dan coklat. Tak jarang ia lupa memperbarui paspornya padahal kopor sudah siap menemani ia berlibur.

Menyerang manula

Mungkin Peter atau David bertanya-tanya, mengapa memori sering mengkhianati mereka? Seseorang mengalami lupa jika informasi yang masuk tidak mendapat perlakuan sebagaimana mestinya. Lupa dapat merupakan proses yang masih normal (fisiologis), tapi dapat pula menjadi proses yang abnormal (patologis). Ada beberapa macam bentuk lupa, yakni mudah lupa (forgetfulness), amnesia, dan demensia.

Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya sukar diambil atau diingat kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang hal ini merupakan tanda-tanda keadaan abnormal.

Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak dibutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan semakin berat jika menyerang manula dan disebut sebagai age-associated memory impairment (AAMI).

Pada amnesia, informasi hanya sampai di memori jangka pendek. Dengan kata lain, terjadi kegagalan atau kesulitan belajar yang berarti sudah bersifat patologis. Namun, perhatian terhadap informasi yang masuk, mengingat kembali informasi yang sudah lama, fungsi kognisi, bahasa, dan kepribadian masih berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi baru tersebut tidak dapat diingat kembali.

Sedangkan demensia gangguan yang paling berat. Informasi sama sekali tidak dapat masuk dalam proses memori. Bisa disebabkan oleh berbagai kelainan di otak seperti: gangguan vaskuler (stroke) dan degeneratif (sindrom Alzheimer).

Mirip RAM Otak

manusia berbeda dengan komputer, meski analoginya memang mirip. Sama seperti komputer di meja Anda, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar: memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Bertentangan dengan pemahaman umum, otak manusia tidak merekam segala kejadian tanpa pilih-pilih, sebagian ada yang terkubur sampai dibangunkan kembali oleh psikiater.

Memori jangka pendek, demikian bahasa Prof. Sidiarto Kusumoputro, pengajar bidang neurologi FKUI/RSCM, bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access Memory). Informasi yang diterima oleh panca indera menunggu dengan singkat di memori kerja ini, semacam play group mental yang kemudian menguapkannya dengan segera. Informasi baru tersimpan setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. Memori jangka pendek memungkinkan Anda untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat nomor telepon cukup lama, meski begitu selesai menelepon Anda mungkin sudah lupa. Maka, sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisa dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman yang abadi.

Sedangkan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut cerebral cortex (kulit luar otak). Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang tampangnya mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antarsel terjadi lewat pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu – pandangan, suara, ide – impuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Ada yang lalu tidak kembali ke bentuk asalnya, karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.

Musababnya, “Memori memang adalah pelbagai pola koneksi antarneuron,” kata Dr. Barry Gordon, kepala klinik gangguan memori di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, AS. Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan ribuan neuron yang tersebar di seluruh cortex. Tapi jika informasi baru itu tidak digunakan, pola koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus kembali. Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi, pola koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak.

Meski demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya dilakukan tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus, berdasarkan pada dua pertanyaan. Pertama, apakah informasi tersebut memiliki arti emosional bagi yang bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam dalam memori kita daripada nama seorang menteri tertentu dalam kabinet yang usianya hanya 2 bulan. Minat khusus, atau berkadar sensasional, oke. Hal yang biasa-biasa saja, sori!

Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi. Hal-hal yang dianggap takkan berguna tidak akan disimpan di dalam memori. Alias, lupakan saja. Dengan sistem filter ini, manusia sanggup menguasai dan melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Pada beberapa kasus istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super. Data yang betapa ruwet pun dapat mereka ingat. Namun, jangan kagum dulu. Umumnya daya pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka, mereka tak kenal makna.

Menurut Dr. Murray Grossman (45), ahli saraf dari Pusat Medis Universitas Pennsylvania, AS, bila ditelusuri lebih teliti berdasarkan jangka waktu keawetannya, ada lima jenis memori. Masing-masing: Semantik, Implisit, Remote, Working, dan Episodik. Semantik merupakan memori tentang makna simbol dan kata. Dengan memori ini kita bisa membedakan anjing dengan kucing.

Memori Implisit biasanya menyangkut kecakapan tertentu, seperti bersepeda, berenang. Memori Remote merupakan gudang data, umumnya melemah sejalan dengan bertambahnya usia. Sedangkan Memori Working adalah memori jangka pendek, yang kita andalkan saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengingat bagian kalimat pertama saat lawan bicara kita sedang mengucapkan bagian kalimat kedua, sehingga kita dapat memahami apa yang ia maksud.

Terakhir, Memori Episodik ialah memori yang menyangkut pengalaman yang belum lama terjadi. Apa nama film yang ditonton minggu lalu, apa nama restoran yang dipesan untuk berkencan Sabtu mendatang, di mana Anda letakkan kacamata barusan, dst. Memori Episodik juga mundur dengan bertambahnya usia.

100.000 sel mati per hari

Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana informasi yang ditangkap manusia bisa tersimpan di otak. “Proses mengingat tak bisa dilepaskan dari belajar, learning,” kata Prof. Sidiarto. Belajar merupakan proses untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru. Sedangkan daya ingat (memori) adalah proses yang menyimpan pengetahuan yang diperoleh itu dalam waktu lama serta dapat mengingatnya kembali sewaktu dibutuhkan. Jelas, dalam mencerap informasi dari lingkungan, kita amat bergantung kepada kemampuan daya ingat ini.

Banyak pertanyaan tentang proses mengingat masih belum terjawab. Soalnya, “Belajar dan memori merupakan fenomena yang kompleks,” kata John Byrne, Ph.D., guru besar dan ketua jurusan neurobiologi dan anatomi Sekolah Kedokteran Universitas Texas di Houston, AS. Sebab melibatkan seluruh bagian otak.

Para peneliti meyakini berkurangnya secara alami jumlah neuron di otak memberikan kontribusi dalam kemunduran ingatan. “Dengan laju 100.000 sel per hari,” ujar Dr. Daniel Alkon (55), kepala laboratorium ilmu saraf Institut Kesehatan Nasional di AS. Karena neuron memang tidak membelah seperti sel-sel lain. Maka sejalan dengan waktu, saat seseorang mencapai umur 65 atau 70, ia sudah akan kehilangan 20% dari 100 miliar neuronnya. Faktor lain kemunduran memori bisa jadi lantaran melemahnya neuron, sehingga transmisi listrik pada sel-sel tersebut tak memadai lagi.

Buktinya nampak dari penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi di Massachusetts yang menyimpulkan, gugatan malpraktek lebih banyak ditujukan kepada dokter tua dibandingkan dengan dokter muda. Dean K. Whitla (71), ahli ilmu jiwa Harvard, pernah menguji 1.000 dokter berumur antara 30 dan 80 tahun. Hasilnya, secara rata-rata dokter berusia 80-an hanya bisa mengingat setengah informasi dibandingkan dengan mereka yang berusia 30-an.

Ketika kita berusaha mengingat suatu informasi tertentu, diperlukan beberapa langkah. Pertama, kemampuan untuk mencatat (register), lalu menyimpan, dan kemudian mengambilnya. Pencatatan yang efektif memerlukan perhatian dan motivasi terhadap informasi tersebut. Informasi disimpan lebih gampang jika sering diingat-ingat kembali. Maka memudahkan pula pemindahan suatu informasi baru, dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Di dalam memori jangka panjang ini, informasi diatur, disortir, dan dipadatkan sehingga mudah ditata menurut petunjuk (clue) tertentu, yang bisa dipanggil sewaktu-waktu.

Tapi proses itu tidaklah semulus jalan tol. Banyak pengalang yang membuat informasi tidak mengendap sebagaimana mestinya. Terlebih bagi mereka yang sedang memasuki gerbang umur 50-an.

Overload

Menurut Jed Diamond, terapis dan pengarang Male Menopause, penyakit lupa sebagian disebabkan oleh gangguan hormonal yang ditandai dengan beberapa gejala seperti sifat lekas marah.

Untunglah, hal itu bersifat sementara, “Dan bisa diredakan dengan penambahan hormon di bawah pengawasan dokter, olahraga, serta pelbagai bentuk pengurangan stres.”

Gerald Celente (51), pendiri Trends Research Institute di Rhinebeck, New York, yang mengaku sering kelupaan sesuatu sehingga tiap kali harus kembali ke kantor, berpendapat, meski umur membuat kemunduran itu, “tapi kerja keras dan terlampau sibuk juga pegang peranan.”

Memang abad informasi saat ini pada akhirnya membawa implikasi tersendiri, sehubungan dengan terbatasnya kapasitas otak. Overload. Seperti yang dituturkan oleh Pamela Boyd (48), seorang guru SD di Olympia, Washington, “Saya harus ingat kode angka untuk mematikan alarm di rumah. Kemudian kode pos daerah saya diperbarui. Untuk masuk ke lobi apartemen saya yang baru, saya juga harus memencet-mencet kode dulu. Belum lagi nomor Jaminan Sosial saya (di AS ini amat penting), e-mail, nomor telepon, dan faksimili,” kata Boyd.

Beberapa gangguan lain, medik maupun bukan, juga bisa menyebabkan orang jadi pelupa. Tekanan darah tinggi, kurang tidur atau kebanyakan minum pil tidur, kebanyakan minuman keras, disfungsi kelenjar tiroid. Gangguan psikologis macam depresi, kecemasan, atau sekadar kurang stimulasi, juga bisa jadi pengalang terciptanya memori baru.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti RS Ninewells di Dundee memperoleh kesimpulan senada, bahwa pengobatan (khususnya obat tidur), gangguan kelenjar tiroid, dan kekurangan vitamin juga bisa memicu timbulnya penyakit lupa. Hanya saja, hal itu biasanya terjadi setelah usia 55 tahun.

Orang muda juga

Tepatlah apa yang dikatakan oleh Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis baru. Hal itu diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori sudah dialami oleh orang-orang muda, usia akhir 20-an. Mereka, misalnya, sering lupa wajah dan nama seseorang selama beberapa saat. Atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba lupa sama sekali.

Tim Xerox menuding semakin kompetitifnya kehidupan masa kini sebagai salah satu penyebabnya. Ini bisa ditengarai dengan semakin panjangnya jam kerja kantor. Tuntutan kehidupan juga membuat orang menjadi bunglon pekerja alias mendobel. Entah menjadi dosen luar biasa atau konsultan. “Kehidupan yang sangat sibuk memungkinkan Anda manjadi pelupa,” kata Dr. Abigail Sellen, salah seorang peneliti.

Sellen mengacu kepada penelitian yang dilakukannya terhadap 15.000 manajer dan eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama lima tahun, angka yang menyatakan memori dan konsentrasi merupakan persoalan besar meningkat dari 15% menjadi 25%. Kesibukan, seperti diungkapkan oleh dr. Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan Bisnis Kesehatan Insead, bisa menenggelamkan seseorang dalam suasana tertekan yang bisa berakibat buruk, yakni kegagalan memori.

Ancaman lainnya adalah lingkungan. Profesor James Reason dari Universitas Manchester mengatakan, timah hitam yang terdapat dalam bensin dan sumber-sumber lain dapat merusak inteligensia dan daya ingat anak-anak. “Memori seorang anak yang dalam masa pertumbuhan bisa rusak karena banyak menghirup zat beracun,” katanya.

Hal ini diamini oleh Prof. Dr. Soemarno Markam, ahli saraf FKUI – RSCM. Menurut dia, polusi bisa menyebabkan perkembangan saraf otak terganggu. Ia memberi contoh orang-orang Rusia pedesaan yang hidup di lingkungan bersih. “Hingga usia 100 pun mereka tidak pikun,” ujarnya.

Studi terbaru malah menunjukkan, bedah operasi menggunakan bius total juga bisa menimbulkan masalah berkaitan dengan memori dan konsentrasi. Apa yang terjadi dengan otak mereka?

Stimulasi dan obat

Berbagai persoalan di atas mendorong para peneliti untuk menyelidik apa penyebab hilangnya atau mundurnya daya ingat. Apalagi, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Arnold Scheibel, direktur Institut Penelitian Otak UCLA, “Masih sedikit sekali yang kami ketahui tentang otak yang kecil itu, meski penelitian telah riuh-rendah begitu.”

Dana memang mengalir deras. Sehubungan dengan AAMI, misalnya, The Charles A. Dana Foundation telah mengucurkan dana untuk kelangsungan sebuah penelitian sebesar AS $ 8,4 juta kepada lima pusat medis universitas utama. Para peneliti memperoleh bantuan peralatan yang bernama pelarik PET (positron emission tomography) yang dapat mendeteksi perubahan kimiawi yang terjadi saat otak sedang melakukan berbagai tugas, semisal menghafalkan daftar kosa kata.

Beberapa penelitian telah menunjukkan hasil meski baru diterapkan kepada binatang. William Greenough, peneliti di Universitas Illinois, bisa jadi memberikan seberkas lilin untuk menyibak kegelapan yang dialami para manula. Greenough mengurung tikus bersama beberapa mainan seperti bola, boneka, dsb., serta luncuran dan terowongan. Ketika ia kemudian membedah otaknya, ia mendapati jumlah sel otak yang lebih banyak dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak memiliki mainan dan alat permainan. “Apakah hal itu juga akan berlaku bagi manusia, dalam arti jika dirangsang akan tumbuh sel otak baru?” tanya Greenough.

Penelitian yang mirip juga dilakukan di La Jolla, Kalifornia. Para peneliti menempatkan tikus-tikus pada lingkungan tertentu yang lebih luas dilengkapi dengan sejumlah mainan tertentu. Hasilnya, volume sel otak tikus yang bertanggung jawab terhadap kemampuan belajar dan mengingat ternyata bertambah 15% dibandingkan dengan tikus yang ditempatkan dalam keadaan normal. Ini menunjukkan bahwa tikus-tikus yang ditempatkan pada kondisi tertentu itu lebih pintar dibandingkan dengan sesamanya.

Para ahli sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa “lingkungan yang diperkaya” dapat meningkatkan kinerja otak. Stimulasi, yang muncul dari lingkungan, mampu membuat otak bekerja secara lebih efisien dan meningkatkan koordinasi antarsel. Kalau mengacu kepada kesamaan struktur otak tikus dengan otak manusia, maka semestinya hal itu bisa terjadi pada manusia juga. “Saya justru terkejut kalau hal itu tidak terjadi pada manusia,” papar Fred Gage, peneliti sel otak yang memimpin penelitian di Institut Salk.

Otak manusia memang mempunyai sel-sel cadangan, seperti yang diujarkan ilmuwan dari Institut Riset Stanford bahwa kita hanya menggunakan 10% otak kita. Selebihnya nganggur gur! Cadangan tersebut dipakai untuk mengantisipasi rangsangan tertentu dengan mengembangkan daya komputasi melalui peningkatan jumlah sel yang tersedia. Akan tetapi jika seseorang hidup dalam lingkungan yang rendah stimulasi dan tak pernah menggunakan sel-sel cadangan, maka sel-sel itu akan mati.

Selain penelitian soal stimulasi, para ahli bidang farmasi pun berusaha menciptakan obat yang mampu meningkatkan kinerja otak. Salah satu pemainnya adalah Cortex, perusahaan yang didirikan oleh tiga ahli ilmu syaraf dari Universitas Kalifornia di Irvine. Mereka mengklaim telah menemukan ampakine yang dapat menyegarkan saraf yang lelah.

Yang lainnya, Helicon Therapeutics di Cold Spring Harbor, New York, mengembangkan obat-obatan yang ditujukan untuk molekul otak. Peneliti di sana menemukan adanya protein yang diberi nama CREB, yang kadarnya pada lalat buah berdampak nyata terhadap kemampuan belajar dan mengingat.

Istirahatkan otak Anda

Penelitian untuk menemukan unsur baru dalam otak yang bisa diberi perlakuan obat-obatan masih terus berlanjut. Di pihak lain, banyak terapis yang menawarkan metode lain. Dengan motivasi yang kuat, serta mengaitkan informasi dengan yang telah ada di memori jangka panjang, ternyata orang bisa menjadi super dalam ingat-mengingat. Peneliti di Universitas Carnegie Mellon mencoba hal itu terhadap beberapa siswanya. Dengan memfokuskan mereka kepada deretan panjang angka, para siswa tersebut pada akhirnya menemukan pola yang mereka hubungkan dengan sejumlah bilangan yang telah mereka kenal, semisal hari ulang tahun.

Cara lain diajarkan oleh Harry Lorayne (71), pelatih memori yang terkenal di kalangan penderita insomnia. Ia mengingat nama seseorang dengan mengasosiasikan salah satu ciri tubuh yang gampang diingat.

Tak bisa disepelekan juga adalah jembatan keledai. Sebagai contoh, memori adalah WIRES, yang diambil dari huruf depan Working, Implisit, Remote, Episodik, Semantik. Prof. Sidiarto pun mengembangkan pola serupa. “Ingatlah LUPA, maka kamu tidak akan lupa,” ujarnya. LUPA versi Prof. Sidiarto ini adalah Latihan, Ulangan, Perhatian, dan Asosiasi. Jadi, supaya informasi yang masuk tahan lama harus dilatih, diulang, diberi perhatian, dan kita asosiasikan. Tapi, yang patut diperhatikan juga adalah dalam mencerna informasi harus bermodalkan KAMU, “Konsentrasi, Atensi, Motivasi, Upaya,” tambahnya. Dengan menjalankan LUPA sejak usia muda, otak manusia akan lebih lama menyimpan informasi karena informasi yang diterimanya tersimpan di ingatan jangka panjang.

Bagaimanapun juga otak manusia terbatas kemampuannya. Sementara informasi yang tersebar di dunia ini tak terbatas. Oleh sebab itu McGannon memberi nasihat, “Biasakan berkonsentrasi pada satu hal. Kemudian istirahat untuk menjernihkan pikiran dan baru mulai yang lain.” Ia juga mengusulkan agar kita tidak perlu mencemaskan banyak hal. Sebagai manusia modern, orang sering terjebak pada pemikiran bahwa membaca koran merupakan keharusan. Apalagi dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Tapi, apakah hidup kita tergantung kepada semua yang tertulis di koran tersebut? Menurut McGannon, ketika Anda cemas, pikiran dipenuhi berbagai hal. Lahan untuk memori menjadi tersita dan akhirnya lupalah Anda akan beberapa hal.

McGannon kemudian menambahkan, cara terbaik untuk mengatasi penyakit lupa adalah beristirahat yang cukup untuk memberikan kesempatan otak berelaksasi. Ini bisa dilakukan, semisal, dengan tidur selama lima menit, mengambil napas dalam-dalam, melakukan meditasi pagi dan malam, serta berolahraga agar pusat-pusat memori otak dipenuhi darah yang kaya oksigen. Tapi, tambahnya, yang terpenting adalah menghilangkan perasaan cemas dan jangan terlalu mempersoalkan masalah yang tengah dihadapi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s